Motif Legenda Bulusan

Motif Kapal Kandas
July 29, 2017
Buket Parijoto
July 9, 2017
Show all

Motif Legenda Bulusan

Menceritakan tentang legenda Bulusan yang diperingati setiap Kupatan atau satu minggu setelah Lebaran. Cerita ini berasal dari Desa Sumber Kecamatan Jekulo dengan lima adegan pada motif yang dibuat oleh Ibu Yuli Astuti, antara lain:

  1. Berawal dari Sunan Muria yang hendak mengunjungi Sunan Kudus yang melewati Desa Sumber, tetapi Sunan Muria mendengar suara aneh seperti suara gemericik air di malam hari.
  2. Sunan Muria memerintahkan sebagian murid yang ikut untuk mencari tahu sumber suara yang terdengan aneh dan tidak biasa di malam hari. Ternyata ditemukan sekelompok petani yang sedang bercocok tanam.
  3. Kemudian Sunan Muria memberi nasehat pada petani-petani tersebut agar tidak mengulangi perbuatannya. Karena pekerjaan seperti bertani, berkebun dan sebagainya sebaiknya dilakukan dipagi hari. Malam hari adalah waktu untuk beristirahat, dengan tidak bekerja terlalu berlebihan. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dan dibenci oleh Allah SWT.
  4. Pesantren tempat Sunan Muria menyebarkan agama Islam dan mengajarkan agama Islam kepada murid-muridnya. Banyak murid-murid Sunan Muria yang pergi belajar dan mengaji di pesantren tersebut.
  5. Sunan Muria kembali mengadakan perjalanan yang melewati daerah Desa Sumber, dan mendengar suara aneh gemericik seperti sebelumnya. Kemudian atas perintah Sunan Muria, dipanggil kembali petani yang bercocok tanam di malam hari.
  6. Karena sudah diingatkan berulang kali oleh Sunan Muria, bahwa pekerjaan itu lebih tepat dilakukan di pagi hari, namun tetap dilakukan dimalam hari pula. Tanpa sengaja Sunan Muria berbicara bahwa malam-malam berisik dengan gemericik air, seperti bulus (kura-kura). Berubahlah petani-petani itu menjadi bulus (kura-kura).
  7. Petani-petani tersebut menyesal setelah berubah menjadi bulus (kura-kura). Sunan Muria menganjurkan untuk hidup di rawa-rawa yang rimbun, dibawah pohon gayam. Dan menjadikan akar-akar pohon gayam sebagai rumah dan beranak-pinak. Semenjak itu Sunan Muria setiap Kupatan selalu melemparkan kupat (ketupat) ke sungai atau rawa-rawa di Desa Sumber. Tradisi tersebut masih berlangsung sampai sekarang. Kupatan merupakan hari raya ketupat yang diadakan di Desa Sumber satu minggu setelah Lebaran, dikenal dengan istilah Lebaran ketupat.

Motif yang dibuat oleh pengrajin sekaligus pemilik sanggar ytaitu Ibu Yuli astuti ini, dibuat secara tradisional dengan ditulis menggunakan canting. Motif ini baru ada satu, dan masing memerlukan penggalian nilai-nilai sejarah, dan sebagai ekspresi pencitraan cerita rakyat dalam selembar kain batik. Motif Legenda Bulusan bisa dibaca dengan cara Prasawiya, yaitu cara membaca gambar dari atas ke bawah. Motif ini dibaca secara Prasawiya karena menceritakan tentang legenda dan bersifat kerohanian atau keagamaan.

Warna dasar kain adalah merah cerah, dengan motif manusia berwarna putih dan kontur berwarna kuning. Terdapat pula motif alam benda, yaitu motif awan, bulan dan bangunan dengan warna cerah seperti biru, kuning, dan merah muda. Selain motif-motif tesebut, terdapat motif tumbuhan yang tampak jelas pada motif tersebut adalah penggambaran pohon Gayam, yang banyak tumbuh di Desa Sumber. Pohon gayam merupakan pohon dengan batang yang menyerupai akar, dengan daun yang rimbun dan menghasilkan buah yang bisa dikonsumsi. Motif hewan juga ikut mewarnai motif tersebut, yaitu terdapat hewan air berupa bulus (kura-kura) dengan warna kuning dibawah pohon Gayam.

– SKRIPSI BIDADARI MELISA NURAINI (UNNES) –

 

Motif Legenda Bulusan juga sudah menjadi hak cipta dari Muriabatikkudus yang sudah terdaftar di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia.